Thursday, August 29, 2019

Cuap-Cuap Menikah [Part 3] #fathuranikah


Kita nggak pernah tau kedepannya kehidupan kita akan seperti apa. Tapi, saya yakin, pasti rasanya akan seperti roller coaster deh. Awal menikah saja sudah banyak drama yang kita lewati, bagaimana 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 30 tahun, dan seterusnya? Pasti akan lebih seru lagi.

Yang pasti, saat ini dan semoga sampai seterusnya saya cuma mau ditemani sama Fathur. Semoga Tuhan dan semesta juga mendukung harapan saya. 

Nah, sebenarnya saya nggak tau nih mau bahas apa di tulisan kali ini. Tapi, mungkin ada beberapa hal yang selalu ada di pikiran saya dan rasanya pengin banget saya abadikan jadi tulisan di sini. Siapa tahu suatu saat akan berguna. Ehehe.

Jadi, tidak berbeda jauh sama "Cuap-Cuap Menikah" part sebelumnya, saya mau bilang kalau saya bersyukur ketemu sama Fathur. Kedengarannya memang klise, tapi memang saat ini tidak ada lagi yang bisa saya bilang selain saya bersyukur bertemu dengan suami saya. 

Saya sangat meyakini, manusia tidak ada yang sempurna. Begitu pun dengan Fathur. Fathur bukan suami yang sempurna juga. Ada juga kekurangannya. Tapi kalau bicarakan kekurangan seseorang pasti nggak akan ada habisnya. Jadi saya lebih memilih bicarakan kebaikan-kebaikan Fathur aja. Selain bisa menyalurkan energi positif buat saya pribadi, siapa tahu suatu hari saya kesal atau kami ada masalah, tulisan ini bisa membantu.

Benar kata banyak pasangan suami istri pendahulu saya, setelah menikah, pasangan akan lebih terbuka dan beberapa sifat atau sikap yang selama pacaran tidak tampak, akan tampak ketika sudah menikah. Salah satu sifat dan sikap Fathur yang tampak ketika kami sudah menikah adalah dia tidak terlalu ambil pusing banyak hal. Jadi, Fathur bukan tipe orang yang overthinking. Sebenarnya, ketika pacaran, saya sudah tahu soal ini. Tapi, ketika menikah makin terlihat.

Selain itu, sikap yang dulu sama sekali tidak pernah ia tunjukan ketika masih pacaran adalah manja. Ternyata, Fathur sangat manja. Bahkan, saya belum resmi punya anak saja sudah seperti punya bayi besar yang super manja. Sebelumnya, saya kira dia tidak semanja itu sebagai seorang laki-laki. 

Tapi, kadang saya tidak keberatan kok dengan sikap manjanya dia. Cuma, mungkin akan sedikit kikuk saja ketika saya pun sedang kepengin dimanja. Ehehe. 

Hal lainnya yang membuat saya semakin bersyukur menikah dengan Fathur adalah Fathur cukup bisa diandalkan. Kapan pun saya minta bantuan, Fathur bisa sigap membantu saya. Ia juga tidak asing dengan pekerjaan rumah seperti mengepel dan mencuci piring. Ketika saya sakit, Fathur dengan senang hati tanpa mengeluh sedikit pun membantu saya untuk mengurus pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel, cuci piring, merapikan tempat tidur sebelum kita tidur, menyiapkan peralatan mandi, menyiapkan obat, dan siaga selarut apa pun ketika saya butuh bantuannya (lagi).

Padahal, saya tidak sakit saja, kami berbagi tugas rumah. Saya memasak, menyapu, merapikan tempat tidur, mencuci pakaian, mencuci piring, dan menyetrika. Sedangkan Fathur mengepel, kadang ia yang mencuci piring, dan memasak air. Tidak heran bukan betapa saya bersyukur? 

Baca juga: Cuap-Cuap Menikah [Part 1] #fathuranikah


Mungkin ada banyak suami yang justru lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah ketimbang yang Fathur kerjaan. Namun, kalau saya bandingkan rumah tangga saya dengan orang lain, mungkin saya tidak akan sebersyukur ini. Saya tidak mau hidup saya diisi dengan mengeluh karena hal-hal kecil. 

Banyak orang yang bilang,
"Ah, dia sebegitunya kan karena kalian masih pengantin baru, nanti kalau sudah lama menikah juga dia sudah malas tuh bantu-bantu pekerjaan istri di rumah."

Hal seperti itu mungkin saja terjadi, melihat ayah saya dan ibu saya juga seperti itu dahulu. Ehehe. Tapi, saat ini, inilah yang terjadi, maka saya akan bersyukur setiap kali ada hal yang bisa saya syukuri. Kalau suatu hari Fathur berubah menjadi pemalas seperti yang banyak orang bilang, tidak apa-apa. Saya mau mencoba mengingatkan. Saya mau untuk terus ada di samping dia. Saya mau dia juga selalu ingin ada di samping saya, supaya tidak ada sedikit pun terbesit di benak Fathur untuk menjadikan saya pajangan di rumah, istri yang harus, kudu, mesti, wajib mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa ada bantuan dari suaminya. 

Saya harap, kalau suatu hari Fathur baca tulisan ini, apa yang saya katakan ini bisa menempel di hati dan pikirannya. Saya harap, hanya dengan curahan tulus dari hati saya di sini bisa menyentuh hatinya pula setiap waktu, sehingga kami bisa menjadi pasangan yang tidak hanya bertemu dan bahagia di dunia tapi juga di akhirat. 
***

Di kantor, Grand Rubina Business Park Lt. 10

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.