Kalau kamu inget, saya pernah bicara perihal menikah di blog saya ini, bisa dibilang, kali ini tulisan lanjutan dari postingan saya perihal menikah. Berangkat dari keputusan menikah, rencana ingin menikah yang seperti apa, sampai eksekusinya. Saya ingin merangkumnya.
Setelah kesotoy'an saya di 4 Mei 2018 lalu, menulis perihal menikah, akhirnya apa yang saya inginkan, untuk menikah di usia 24 tahun pun terwujud juga. Padahal, ketika menulis itu, kita baru saja mulai menabung yang entah kapan uang benar-benar akan terkumpul hingga terjadilah pernikahan yang kami impikan.
Baca juga: Perihal Menikah
Saya jadi ingat, waktu itu ada teman dekat saya yang juga asal bicara soal kapan ia akan menikah. Kami duduk berempat, saya, Fathur, dan kedua teman saya yang salah satunya asal bicara kalau ia akan menikah lebih dahulu sebelum saya menikah dengan Fathur. Padahal saat itu belum ada sosok yang sedang dekat dengan teman saya tersebut. Ketika saya dan Fathur bicara soal rencana menikah, teman saya itu bilang,
"Doain gua ya, Ran. Kayaknya gua menikahnya sebelum lu. Gua duluan nggak apa-apa ya?!"
Dan... Ya, dia menikah duluan sebelum saya. Rencana Tuhan ya seseru dan semenarik itu. Sampai sekarang bahkan saya masih heran, kok bisa ya? Kalau sudah Tuhan yang bicara, maka manusia sudah dijamin akan bahagia. Saya seyakin itu dengan rencana Tuhan. Rencana Tuhan ya, bukan rencana kita.
Setelah apa yang terjadi pada teman saya itu, saya semakin yakin kalau kita percaya kuasa Tuhan, berserah, terus meminta kepada yang empunya jodoh kita, sudah tentu akan diberi jawaban yang sangat membahagiakan kita. Walau seandainya kisah saya dan Fathur tidak berujung ke pelaminan, saya percaya itu juga adalah jalan yang membuat saya bahagia asal sudah Tuhan yang bergerak.
Tidak berbeda dengan kebanyakan pasangan yang sedang merencanakan pernikahan. Banyak kepenginnya, banyak halangannya, banyak bahagianya, banyak galaunya, dan banyak jatuh-bangunnya. Saya dan Fathur, Alhamdulillah menikmati setiap proses yang kami jalani. Fathur yang penyabar, pendengar yang baik, pemberi nasihan dan masukan yang realistis, cukup bijak, dan bertanggung jawab semakin membuat saya yakin bahwa saya sanggup dan bisa hidup dengan orang seperti Fathur. Semoga ia pun begitu.
Jadi, apa duluan yang kami pertimbangkan? Sejujurnya, saat itu kami salah langkah. Pertama kali yang kami bicarakan adalah soal pesta pernikahan yang seperti apa tanpa mempertimbangkan biayanya. Setelah salah jalan itu, kami putar balik dan mulai membicarakan dana yang kami punya. Setelah kami yakin ada berapa dana yang akan berhasil kami kumpulkan sampai bulan hari H, maka kami mulai mencari vendor yang sesuai dengan budget yang sudah ditetapkan tersebut.
Alhamdulillah, lagi-lagi kami sangat bersyukur bahwa kami banyak dibantu oleh keluarga dan teman-teman. Tidak terlalu sulit mendapatkan vendor pernikahan berkat campur tangan orang-orang yang kami izinkan terlibat. Meski tidak sulit, kami tetap bercucuran air mata. Di tengah jalan, kami kehabisan uang. Kami bahkan berencana menjual apa saja barang-barang yang bisa kami jual untuk menutup kekurangan tersebut. Beruntung, hal tersebut urung dilakukan. Kami bertemu jalan keluar. Kami bawa segalanya dengan doa dan yakin akan kuasa Tuhan.
Singkat cerita, drama pernikahan masih terjadi hingga menjelang hari H. Dengan sisa dana seadanya, saya hanya bilang kepada para panitia dan penanggung jawab, saya harap sisa dana bisa dialokasikan secara efektif. Jika boleh dikata, saat itu seluruh gaji bulanan saya, saya ambil untuk menambah biaya tak terduga yang mungkin saja muncul ketika acara. Ternyata benar dan beruntung, cukup.
Makanan tidak kekurangan, acara berjalan lancar, kami dan keluarga nyaman dan menikmati suasana, tidak ada hal yang merusak jalannya acara. Saya rasa semua itu sudah cukup.
Akhirnya, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang Maha Esa, orang tua kami, seluruh kerabat, keluarga, sahabat, tamu, dan lainnya telah menyukseskan acara kami. Doakan kami bisa menjaga satu sama lain. Menjaga amanah dan tanggung jawab yang sejak ijab kabul terjadi sudah ada di pundak kami.
Kami bahagia karena semua orang turut bahagia atas kebahagiaan kami.
To be continue...



No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.