![]() |
| Photo credit: Boundless |
Hari itu semua berkumpul melingkar, memberi pujian satu sama lain, menguatkan satu sama lain, akhirnya menertawai satu sama lain. Awalnya saya tidak banyak bicara, karena takut akan ada hujan yang tiba-tiba deras dari ujung mata. Saya banyak diam, terbawa suasana, selanjutnya lebih banyak menyesap lemon tea yang saya pesan, tapi malah dibalas dengan asam.
Saya menyadari bahwa ketika itu saya sedang dikelilingi orang-orang hebat. Orang-orang yang saya lihat setiap hari, berbagi bekal di siang hari, hingga berbagi komentar bahkan pertanyaan nyeleneh, sebenarnya Lucinta Luna itu laki-laki atau perempuan sih?
Selanjutnya giliran saya memberikan pujian kepada mereka. Suara saya bergetar dan nyaris lidah saya tergelincir saking cepatnya berbicara, berusaha menahan air mata yang bisa jadi bakal lebih deras dari Air Terjun Niagara. Tidak hentinya saya bersyukur mengenal mereka. Ah, rasanya sangat beruntung bisa bertemu dengan mereka.
Sekarang, masuk sesi mencurahkan uneg-uneg. Orang pertama menangis mencurahkan isi hati dan pikirannya, yang lain terbawa suasana, dan saya sedang bersusah payah menahan nyeri di hati yang sejak awal sudah menerobos, nyaman bersila.
Tak pernah tega melihat orang lain menangis. Benar saja, saya latah dan air mata malah lebih deras mengalir daripada si orang pertama yang malah sudah lega. Setelah selesai bercerita, yang lainnya menepuk pundak seraya berkata, "Ada yang pergi, ada yang ditinggalkan." Lalu, yang lainnya menambahkan, "Yang pergi dan yang ditinggalkan memiliki luka yang sama, tidak bisa ditakar siapa yang lebih menderita."
Akhirnya, perpisahan hanya perihal bagaimana dan kapan akan terjadi. Kita kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi rumah kesekian dalam hidup. Tempat ternyaman untuk kembali, ya, siapa tahu bisa kembali. Bertemu lagi dengan sebagian dari diri yang diam-diam sangat kita cintai.
Saat berpisah, kita akan menapaki jalan yang berbeda. Namun, jika tujuan kita satu, siapa tahu akan bertemu lagi di tikungan selanjutnya. Setidaknya, itu yang kadang masih tertanam dalam pikiran saya. Kami rasa, kami tahu bahwa tugas selanjutnya adalah saling berdoa dengan tulus agar kami bisa menjemput kebahagiaan kami yang menanti di lain arah. Atau malah perpisahan itu sendiri yang menjadi doa tertulus yang pernah terucap sekelibat?
Terkadang, pertemuan dengan seseorang dirancang untuk bisa bersama selamanya, atau malah hanya sekadar saling belajar bijaksana.
Dan saya belajar banyak dari mereka.
Sahur, Cengkareng
25 May 2018

Me love youuu..we love youu.. we too love our togetherness. Ke-trigger untuk share sesuatu juga.
ReplyDeleteAyooo dong tulis *kompor
Delete