![]() |
| Photo credit: yumeuranai |
Janji pertama, janji ke adik gua untuk membantu dia menyokong biaya pedidikannya. Gua sangat ingin dan usaha tentunya, tapi keadaan yang terkadang membuat gua kesulitan untuk mewujudkannya. Awalnya, gua sangat yakin ketika menjanjikan bahwa gua bisa membantu dia. Tapi, pada kenyataannya hingga saat ini, saat dia sedang melanjutkan pendidikannya, tidak banyak yang bisa gua lakukan.
Merasa bersalah? Tentu! Sampai terkadang gua tidak kuasa untuk melihat atau ketemu adik gua. Bukan karena takut ditagih janjinya, tapi lebih karena malu pernah menjanjikan sesuatu yang seharusnya sudah bisa gua lunasi sejak lama.
Kebetulan kita sebagai saudara memang tidak dekat. Dulu saat masih kecil mungkin kami sangat dekat, sampai-sampai bisa dikatakan kita nih sibling goals banget! Tapi, lagi-lagi sejak ayah dan mama divorced, semua pun ikut bubar jalan. Tidak benar-benar berpisah, hanya saja kami seperti Tom dan Jerry, yang terkadang saling membutuhkan tapi lebih sering saling berkelahi.
Gua sebagai kakak merasa bersalah, tapi ada ego "kakak" yang bikin gua masih secuek itu sama dia. Sekarang ini, gua sedang tidak yakin apakah bisa melunasi janji yang sudah dengan sangat percaya dirinya gua ucapkan di masa lalu atau nggak. Gua takut ketidakyakinan ini yang membuat gua benar-benar tidak mampu membuat senang dan membanggakan adik gua. Batin gua selalu ngomel ketika gua bersikap sangat dingin, bersikap seolah dia bukan adik gua, seolah dia cuma jadi penganggu gua aja. Sikap itu sangat bertentangan sama apa yang dibilang batin gua. Ada keinginan ingin jadi seorang kakak pada umumnya yang bisa menunjukkan dengan gamblang betapa si kakak sangat menyayangi adiknya.
Kalau aja adik gua bisa baca isi hati gua, mungin dia bisa tahu, seberapa sayangnya gua sama dia. Bahkan untuk nulis sayang aja susah banget nih! Hm..
Soal janji di masa lalu, gua sedang berusaha nyicil. Meski mungkin gua harus terseok-seok sampe berdarah-darah, setidaknya gua harus melunasinya kan? Entah! Bahkan ketika bicara harus melunasi aja gua masih tidak percaya diri. Yang ada malah tanda tanya, bukan tanda seru.
***
Itu soal janji di masa lalu yang gua buat kepada orang. Sebuah janji yang pernah orang buat ke gua beberapa tahun silam juga belakangan sedang menghatui gua. Seketika gua ingat bahwa ada seseorang yang mengatakan,
"Aku janji, kalau kamu sudah dewasa nanti, aku tidak akan mencari yang lain,"
Nggak, gua sama sekali tidak ingin menagih dan menuntut orang yang pernah bicara seperti itu untuk melunasi janjinya karena sekarang justru gua mendapatkan janji baru yang lebih pasti. Justru, gua kepengin sekali supaya janji itu tidak berkeliaran lagi dipikiran gua karena saat ini bahkan gua sudah tidak butuh janji itu. Sudah gua anggap lunas. Tapi, gua nggak tahu gimana caranya supaya janji itu tiba-tiba nggak muncul. Gua bahkan juga nggak tahu sejak kapan dan kenapa tiba-tiba janji itu nongol di pikiran gua.
Janji yang satu ini sebenarnya semakin menyadarkan gua betapa sangat mudah berjanji kepada seseorang. Menyadarkan gua, sebaiknya jangan berjanji ketika kamu sendiri tidak yakin dapat melunasi janji tersebut.
Betapa makna dari kata janji itu sendiri sangat berat sampai-sampai seseorang harus memikirkannya tidak boleh 1 atau 2 kali, tapi ribuan kali sebelum mengucapkannya. Semoga gua bisa semakin bijak dalam berucap, terutama perihal janji. Agar tidak ada janji yang tertinggal lagi di masa lalu yang akan datang.

No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.