![]() |
| Photo credit: Dice Insights |
Cat calling, body shaming, bullying, what the hell is that?! Sorry kalau tulisan ini di awali dengan sesuatu yang nggak enak dan menurut gua pribadi menjijikan. Sejujurnya isu ini tuh sudah sangat lama bikin gua merasa gerah, resah, dan marah. Let me tell you how I look like sebelum gua menumpahkan keresahan gua. Gua ini pendek dan gemuk, belum lagi muka gua yang suka merah-merah mendadak di bagian pipi, jerawat dan beruntusan jangan ditanya, gua sipit, pesek, dan gua sama sekali tidak masalah dengan keadaan gua yang seperti ini. I love my self!
Dengan penampilan yang seperti itu, sudah pasti jadi makanan empuk "jempol dan lidah lincah" beberapa orang kan? Gua sering banget dapat komentar berbau melecehkan baik dari orang terdekat, teman lama, saudara, rekan kerja, dan lain sebagainya soal penampilan gua. Mungkin zaman SD gua yang masih belum menyadari bahwa komentarin penampilan orang apalagi fisik itu adalah hal yang nyebelin, gua juga jadi salah satunya yang melakukan hal tersebut. Tapi, semakin ke sini, gua semakin paham kalau semua itu adalah hal yang bukan lagi nyebelin, tapi menjijikan.
Awalnya gua berusaha untuk ignore, like nothing happened. Tapi, kalau terus-terusan seperti itu gua rasa nggak akan ada perubahan, orang akan terus melakukan hal tersebut. Jadi, gua bilang sama diri sendiri untuk jangan lagi diam kalau ada orang yang melecehkan penampilan atau doing harrasment sama gua walaupun maksud mereka mungkin hanya bercanda dan beberapa orang merasa hal itu justru bisa jadi cara supaya kamu sama dia jadi lebih dekat. Dalih yang seperti ini entah muncul dari mana.
Kalau kamu mungkin pernah mampir ke Instagram gua, pasti nemu tuh postingan yang ngomongin soal isu ini. Gua bilang di postingan itu kalau sejujurnya gua sedih sama mental orang yang masih suka komentarin fisik orang di zaman yang sudah serba kece ini. Sebenarnya, tanpa di komentarin, orang yang jerawatan, gendut, pendek, ketombean, dll tuh sudah cukup sadar kok bahwa mereka seperti itu. Jadi, komentarnya tuh cuma menyakiti hati aja dan jadi sampah. Terus, gua penasaran, orang yang komentar seperti itu apa puas sudah menyakiti hati orang lain?
Lalu, kadang kita masih dengar kalau ada kasus pemerkosaan mostly yang disalahkan dari pihak perempuan atau korbannya. Ada yang bilang, "Itu mah dasar perempuannya aja yang pakaiannya terbuka", "Nggak pakai kerudung sih!", dan lain sebagainya. Ironinya, komentar itu justru datang dari mulut perempuan juga. Nah loh? Gua hidup di zaman apa sih? Why you have to blame the victim?
Mau orang lain penampilannya seperti apa atau bagaimana sebenarnya tergantung si pelakunya sendiri, bisa nggak mengendalikan napsunya. Toh, nggak sedikit orang yang sudah berpakaian tertutup masih jadi korban pemerkosaan kan? Menurut gua masalahnya adalah bagaimana kita sebagai manusia bisa memanusiakan manusia lain.
Treat others like you wanna be treated
Komentar yang melecehakan ini gua rasa hampir semua orang pernah alami. Gua aja yang cuma rakyat biasa bisa kena, apalagi artis-artis, influencer, dan lain sebagainya. Nah, tulisan ini juga sebenernya ke trigger dari postingannya Gita Savitri yang baru saja mengalami sexual harrasment comment yang kayaknya dari cowok di media sosialnya. Terus, gua sebagai orang yang juga pernah dapat komentar nyebelin - meski nggak senyebelin komentar orang ini ke Gita sih - jadi gemes dan gatel pengen tulis sesuatu.
Kurang lebih komentar gini: "Untung cantik, bisa dijadiin bahan ngoc*k nih" (Sorry guys, ini sangat menjijikan jadi gua kasih bintang)
Mungkin ada sebagian orang bilang, ya namanya juga cowok. Biarin aja, wajar kalau nyeleneh. Tapi, setelah gua pikir-pikir, kayaknya nggak semua cowok kayak gitu kok. Contohnya, pas gua kasih lihat postingan Gita ini ke pacar gua, kemudian komentar pertama dia "Buset, parah banget! Manusia bukan itu?". See, Fathur yang cowok aja jijik, gimana korbannya? Gua nggak bermaksud bilang kalau pacar gua orang yang super duper baik. Tapi, dengan komentarnya yang seperti itu, paling nggak gua tau kalau masih ada orang yang tahu betul bagaimana harus bersikap dan tahu sopan santun ke perempuan. Jadi, bukan karena dia laki-laki terus dianggap wajar kalau komentar kelewat bodoh seperti itu, tapi balik lagi ke diri masing-masing bagaimana membawa diri sendiri ke ruang publik yang nyata atau maya.
Intinya, gua harap, semakin majunya dunia, semoga semakin maju juga pola pikir seseorang. Ingat juga kalau kita sepenuhnya wajib bertanggung jawab sama komentar yang kita tinggalkan di postingan seseorang. Semoga juga para laki-laki jadi semakin tahu bagaimana cara menghargai perempuan dan nggak hanya melihat perempuan dari bentuknya, dari fisiknya aja. Mulailah melihat perempuan dari sikapnya, prilakunya, akhlaknya, otaknya, dll. Semoga bullying, harrasment, body shaming, cat calling, dll makin minim terjadi bahkan mudah-mudahan sampai benar-benar sudah tidak ada lagi dan kita semua semakin sadar betapa hal tersebut sangat tidak pantas untuk dilakukan.
Sekian, terima kasih!
Maapin kalau gua terlalu nyebelin atau tulisannya terkesan hm, terkesan... gitu deh!

Aku jadi masuk dalem artikel
ReplyDeleteHaha... Bahagya nggak?
Delete