Setelah menikah, sepertinya sama seperti pasangan lainnya. Saya dan Fathur yang sekarang sudah bisa saya sebut suami, mengalami kebingungan.
Akan tinggal di mana? Berapa harga sewa kontrakan yang sesuai sama pengeluaran dan pemasukan kita? Di mana kita akan tidur (kami belum punya kasur sendiri. Masih pinjam punya orang tua Fathur)?, dan lainnya.
Namun, saya sama Fathur ingat kalau sebelum menikah, kakak laki-laki Fathur sempat menawarkan untuk meneruskan kontrakan yang ia dan keluarga kecilnya tempati karena ingin pindah ke rumah orang tua sang istri. Akhirnya, kami memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Saya pindah dari kontrakan saya sebelumnya dan Fathur belajar mandiri juga untuk menjadi kepala rumah tangga dengan tinggal hanya bersama istri.
Kontrakan tidak besar. Ada 3 petak ruang tanpa pintu. Ada halaman yang tidak terlalu besar juga yang kami gunakan untuk mencuci dan menjemur pakaian dilengkapi dengan gerbang kecil yang sudah sedikit usang namun masih kokoh.
Tempat tinggal saya dan suami kini tidak jauh dari rumah orang tua Fathur. Tujuannya sederhana, Abah (ayah laki-laki Fathur) sudah tua. Meski beliau masih kuat untuk jalan-jalan sekitar dalam rumah, namun kondisinya tidak selalu sehat. Itu kenapa saya dan Fathur lebih memilih untuk menerima tawaran kakaknya Fathur untuk meneruskan kontrakannya yang notabene dekat dari rumah orang tua Fathur.
Singkat cerita, saya dan Fathur sekarang sudah tinggal di kontrakan tersebut. Saya bersyukur di awal pernikahan kami, kami sudah tinggal berpisah dengan orang tua. Bersyukur karena kami berani mulai mandiri. Tidak perlu mengumbar kesulitan yang mungkin akan kami hadapi dikemudian hari.
Nah, bicara soal mandiri, beberapa waktu lalu saya sempat diskusi dengan kakak dari sahabat saya. Awalnya, beliau cerita tentang suatu hal. Kemudian, beliau juga memberikan petuah-petuah sekaligus mengajak saya diskusi perihal pernikahan. Bagi saya yang baru menikah, diskusi seperti ini amat sangat saya butuhkan. Poin penting yang saya dapat dari ngobrol sama beliau, pernikahan itu yang lebih seru memang memulainya dari titip nol. Dalam artian, tidak ujuk-ujuk punya segalanya.
Mungkin ada beberapa orang yang berbeda pendapat soal hal ini. Tapi, nggak apa-apa. Saya sendiri fifty-fifty. Nggak punya apa-apa aja juga nggak baik, langsung punya segalanya juga nggak terlalu bagus juga. Kenapa saya setengah setuju sama pandangan tersebut, menurut saya dengan merintis dari awal dengan keadaan yang terbatas, nanti suatu hari kita sudah punya apa yang kita angan-angankan ketika keadaan kita terbatas itu rasanya akan bangga. Akan ada cerita dari proses mendapatkan sesuatu itu.
Tapi, bukan berarti kalau di awal pernikahan sudah punya segalanya tidak baik ya. Justru itu baik juga karena berarti kita hanya tinggal melengkapi apa yang belum. Waktu untuk melengkapi kebutuhan rumah misalnya, jadi tidak sebanyak ketika keadaan kita terbatas. Semua tergantung perspektif masing-masing umat aja sih.
Perjalanan hidup seseorang nggak ada yang tahu. Jadi, kita sebagai manusia ya ikhtiar aja, berusaha, dan tentu jangan lupa dibarengi sama doa.
Singkat cerita, saya dan Fathur sekarang sudah tinggal di kontrakan tersebut. Saya bersyukur di awal pernikahan kami, kami sudah tinggal berpisah dengan orang tua. Bersyukur karena kami berani mulai mandiri. Tidak perlu mengumbar kesulitan yang mungkin akan kami hadapi dikemudian hari.
Nah, bicara soal mandiri, beberapa waktu lalu saya sempat diskusi dengan kakak dari sahabat saya. Awalnya, beliau cerita tentang suatu hal. Kemudian, beliau juga memberikan petuah-petuah sekaligus mengajak saya diskusi perihal pernikahan. Bagi saya yang baru menikah, diskusi seperti ini amat sangat saya butuhkan. Poin penting yang saya dapat dari ngobrol sama beliau, pernikahan itu yang lebih seru memang memulainya dari titip nol. Dalam artian, tidak ujuk-ujuk punya segalanya.
Mungkin ada beberapa orang yang berbeda pendapat soal hal ini. Tapi, nggak apa-apa. Saya sendiri fifty-fifty. Nggak punya apa-apa aja juga nggak baik, langsung punya segalanya juga nggak terlalu bagus juga. Kenapa saya setengah setuju sama pandangan tersebut, menurut saya dengan merintis dari awal dengan keadaan yang terbatas, nanti suatu hari kita sudah punya apa yang kita angan-angankan ketika keadaan kita terbatas itu rasanya akan bangga. Akan ada cerita dari proses mendapatkan sesuatu itu.
Tapi, bukan berarti kalau di awal pernikahan sudah punya segalanya tidak baik ya. Justru itu baik juga karena berarti kita hanya tinggal melengkapi apa yang belum. Waktu untuk melengkapi kebutuhan rumah misalnya, jadi tidak sebanyak ketika keadaan kita terbatas. Semua tergantung perspektif masing-masing umat aja sih.
Perjalanan hidup seseorang nggak ada yang tahu. Jadi, kita sebagai manusia ya ikhtiar aja, berusaha, dan tentu jangan lupa dibarengi sama doa.
To be continue...
Baca juga: Cuap-Cuap Menikah [Part 1] #fathuranikah

No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.