Monday, August 26, 2019

Kantung Kehamilan Saya Kosong Setelah Pregnancy Bleeding (Part #2)


Suami saya menggenggam tangan saya. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, dokter Ricky adalah dokter yang hangat dan ramah. Cara beliau menyampaikan berita sesungguhnya membuat saya tenang. Namun, ketika ia melakukan USG, rasanya cukup membuat saya kembali gugup. Beliau seperti mencari sesuatu, cukup lama. 


Kemudian, dokter menyampaikan beberapa hal ini dengan tenang,



"Bu, kalau yang dilihat, ini kantung kehamilannya masih menempel ya bu, artinya kemungkinan masih bertahan. Namun, janinnya masih belum terlihat. Apakah ini berbahaya? Nggak kok, di usia kehamilan 6 minggu, ada beberapa kehamilan yang memang janinnya belum kelihatan di usia kandungan. Tapi, nanti kalau usia kandungannya sudah 8-12 minggu masih belum terlihat, artinya ibu hamil kosong. Tapi ibu jangan khawatir ya, kita berdoa dan berusaha terlebih dahulu. Nanti malam kita coba ambil darah ya bu. Kita tes lab. Sekarang ibu istirahat dulu sambil tunggu dapat ruang rawat inap. Saya tinggal ya bu. Jangan stress!" Kata dokter dengan nada yang bersemangat. Mungkin beliau ingin mengirimkan energi positif kepada saya dengan cara bicaranya yang tenang namun terasa bersemangat.

Jujur, saat itu kalut masih ada namun tidak sebesar sebelumnya. Saya rasa suami saya tidak kalah kalut. Karena kami hanya terdiam sambil menggenggam tangan masing-masing, tersenyum nanar. Ada perasaan bersalah kepada calon anak ini. Saya merasa jahat karena kurang pandai menjaga calon anak kami. Meski begitu, saya berusaha menenangkan diri sendiri agar tidak terlalu memimkirkan hal-hal negatif yang nantinya akan berpengaruh dengan anak kami. 

Akhirnya, saya pun pindah ke ruang rawat inap. Saya ditemani oleh mama dan suami saya. Sekitar selepas Isya, ayah dan ibu sambung saya juga datang menjenguk. Kami bercerita soal kronologi pendarahan yang saya alami. Mereka berusaha menghibur saya.

Malam itu yang menemani saya tidur di rumah sakit adalah mama saya. Sedangkan suami saya istirahat di rumah orang tuanya karena besok ia masih kerja dan belum istirahat sejak kemarin untuk mengurus saya. Di ruangan itu, hanya ada 2 tempat tidur pasien. Satu kasur saya yang gunakan, satu kasur lainnya digunakan oleh orang lain yang baru saja melahirkan anak perempuan. 

Sekitar pukul 9 atau 10 malam, perawat datang untuk mengambil sampel darah saya. Saat itu kami memang belum tidur. Saya tidak bisa tidur padahal mama saya sudah sangat ngantuk. Setelah proses pengambilan sampel darah dilakukan, saya mencoba untuk istirahat. Saya rasa saat itu sudah tengah malam dan saya terbangun karena ingin buang air kecil. Selama di rumah sakit, saya memang sering sekali buang air kecil. Kami pikir itu karena cairan infus, tapi kata dokter hal itu karena kantung rahim mulai membesar dan sedikit mendorong kantung kemih, sehingga, ibu hamil pada umumnya jadi sering ingin buang air kecil. 

Setiap buang air kecil, saya selalu khawatir darah akan keluar lagi. Benar saja, setiap buang air kecil, masih ada sisa darah yang keluar. Warnanya tidak segar, melainkan merah kecokelatan. Perawat bilang, itu tidak apa-apa, selama keluarnya tidak banyak sekali, tandanya itu hanya sisa-sia darah kemarin saja. 

Saya merasa bersyukur, banyak perawat yang memberi saya semangat, ramah, dan selalu menjawab pertanyaan saya. Mungkin karena mereka sudah sering menghadapi ibu-ibu hamil yang kadang mood swings-nya parah sekali. Atau mungkin kasus seperti saya ini juga sudah sering mereka temukan, sehingga mereka sudah tau harus bersikap seperti apa.

Keesokan paginya, setelah sarapan ada perawat yang datang untuk memberikan hasil lab. Namun, sayangnya beliau tidak menjelaskan lebih rinci tentang hasilnya. Sepengelihatan awam saya, semua hasilnya terbilang normal. Satu hari berlalu cukup cepat dan... sedikit berat.

Baca juga: Pengalaman Pregnancy Bleeding di Trimester Awal Kehamilan (Part #1)

Malam ini, suami saya yang menjaga saya. Sepanjang menjaga saya, ia hanya diam. Membuat saya berpikiran yang tidak-tidak. Saya pikir, suami saya kecewa karena saya tidak bisa menjaga calon bayi kami dengan baik atau ia lelah harus melewati proses-proses ini. Pikiran-pikiran itu membuat saya sesak dan akhirnya saya ungkapkan ke suami saya hingga saya menangis. Ternyata, apa yang saya pikirkan salah besar. Suami saya hanya tidak tahu harus berbuat apa, harus bagaimana agar saya merasa lebih nyaman dan tenang karena kejadian ini adalah pengalaman pertama baginya juga bagi saya. Setelah itu, saya baru mengerti perasaannya. Komunikasi yang baik di saat seperti itu memang wajib dilakukan agar tidak ada prasangka yang negatif.

Malam berlalu, keesokan paginya dokter kembali menyapa saya, menanyakan kabar kemudian sedikit memeriksa kondisi saya. Beliau bilang, bahwa sebenarnya saya sudah boleh pulang, dengan catatan obat dan vitamin yang diberikan harus diminum secara rutin dan sesuai dosis yang ia tentukan. Beliau juga bilang saya harus bed rest. Tidak boleh melakukan pekerjaan apa pun kecuali makan dan ke toilet. Tentu yang bisa saya lakukan hanya mengangguk dan nurut demi kebaikan si jabang bayi.

Dokter juga memberikan surat rekomendasi bed rest yang bisa saya gunakan untuk izin ke kantor. Ia juga memberikan saya surat keterangan perjanjian untuk bertemu lagi dengannya 2 minggu mendatang. Akhirnya, siang harinya saya siap-siap untuk pulang. Setelah administrasi selesai, kurang lebih setelah magrib, kami sudah sampai rumah. Saya bilas sebentar badan saya agar bisa tidur nyenyak, mengganti baju, dan langsung berbaring di kasur. 

Suami saya sangat baik, ia rela melakukan segala pekerjaan rumah yang sebelumnya saya yang handle. Ia tidak mengeluh sama sekali. Ia bahkan selalu menyemangati saya ketika saya sedikit murung. Saya sangat bersyukur. Tidak lupa mama saya yang selalu menyempatkan untuk datang ke rumah, memasakan makanan yang sehat untuk anak dan calon cucunya.

***

to be continue...

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.