Hamil adalah hal yang mungkin paling didambakan pasutri baru. Salam halnya dengan saya. Namun, pengalaman hamil saya ini diawali dengan drama yang cukup bikin heboh. Saya mengalami pregnancy bleeding di usia kehamilan 7 minggu. Pengalaman bleeding during pregnancy di awal trimester sebenarnya memiliki 2 kemungkinan, bisa berarti normal atau malah berbahaya.
Jadi, berdasarkan apa yang pernah saya alami, saya ingin sedikit cerita tentang pengalaman pregnancy bleeding saya beberapa waktu lalu. Selamat meresapi.
Hari itu, siang hari sekitar pukul 13.45, Sabtu, 29 Juni 2019 saya sedang santai di tempat tidur sambil makan mangga. Seketika saya merasakan sesuatu keluar kemaluan saya. Karena rasanya seperti menstruasi, saya cek ke kamar kecil. Benar saja, ada darah di celana dalam saya. Kira-kira jumlah darahnya setengah pembalut. Saat itu jantung saya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Saya gemetar dan segera membersihkan darah didaerah kemaluan. Selanjutnya, saya pakai sarung dan mengambil ponsel saya untuk foto darah di celana dalam saya. Selanjutnya saya hubungi suami. Berkali-kali tidak diangkat, saya inisiatif untuk kirim pesan text. Sambil terus saya telepon.
Setelah suami angkat, saya bilang, saya keluar darah. Suami saya hanya istigfar dan sepertinya dia ngebut untuk sampai ke rumah. Sesampainya di rumah, dia segera mendekati saya, pintu gerbang rumah masih terbuka. Saya hanya bilang,
"Tidak apa-apa, saya mandi dulu habis itu ke rumah sakit. Kamu tolong siapin dompetku, buku yang selalu kita bawa pas check up ya." Pinta saya ke suami.
Setelah selesai mandi, kami langsung berangkat ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, pihak rumah sakit merujuk saya ke IGD. Sampainya di IGD ada suster yang memeriksa saya. Saya ditanya, berapa banyak darah yang keluar, pukul berapa darah keluar, saya biasa diperiksa dengan dokter siapa, beliau juga periksa tensi saya, selanjutnya saya disuruh tunggu di ruang bersalin. Suami saya mengurus administrasi dan saya menunggu dokter yang akan memeriksa saya.
Sayangnya, Sabtu itu hanya ada 1 dokter kandungan yang stand by. Dokter saya tidak ada di tempat. Akhirnya, setelah selesai mengurus administrasi, suami saya datang ke ruang bersalin membawa air mineral gelas yang katanya dari suster di depan tadi yang periksa saya.
Kira-kira 10 menit berlalu, datang suster yang katanya diutus dokter untuk periksa kondisi saya. Saat itu, suster kembali bertanya kepada saya. Sambutannya ramah, beliau berusaha menceritakan berbagai kemungkinan. Selanjutnya, beliau menjelaskan saya akan diperiksa dengan cara apa. Saat itu yang saya lihat, suster membersihkan tangannya, menggunakan sarung tangan karet, dan membawa beberapa alat seperti wadah, handuk, dan alat yang tampak seperti pencapit berbentuk seperti mulut bebek namun lebih panjang berbahan stainless yang ukurannya cukup besar.
Suster meminta saya mengambil posisi seperti ingin melahirkan dengan meletakan kaki dipenyanggah kaki. Beliau bilang akan memulai pemeriksaan dengan memasukan alat tersebut. Ia meminta saya menarik napas dalam sambil memasukan alat tersebut perlahan dan saya diminta membuang napas perlahan. Saya merasakan agak nyeri awalnya, terutama ketika suster sedikit menggerakkan alat tersebut. Ketika suster ingin mengeluarkan alat tersebut, saya juga diminta untuk menarik napas panjang, suster mengeluarkan alat perlahan. Setelah alatnya keluar, suster meminta saya menarik napas saya lebih dalam lagi karena beliau mau memeriksa sekali lagi menggunakan 1 jarinya.
Setelah itu, suster langsung bilang ke saya,
"Ibu, sepertinya pendarahan sempat tertahan, karena harusnya sudah dari kemarin-kemarin melihat dari tekstur dan warna darah. Asumsi saya, pendaraan ini bukan pendarahan aktif, jadi mudah-mudahan kandungannya masih bisa diselamatkan. Kita tunggu pemeriksaan lebih lanjut dari dokter ya. Setelah ini ibu bersih-bersih terlebih dahulu dan istirahat di kasur nomor 4 (di IGD). Jangan stres ya ibu, jangan nangis. Berdoa yang banyak ya, bu." Jelasnya sambil tersenyum ramah.
Sampai saat ini, ketika saya mengingat kejadian itu, saya masih gemetar dan sedikit berkaca-kaca. Selama menunggu penanganan dokter, ada perawat yang datang menjelaskan beberapa hal. Perawat menjelaskan bahwa saat ini saya akan ditangani oleh dokter Ricky karena dokter Grace yang tadinya memeriksa saya sedang libur hari itu. Lalu, karena kondisi saya yang belum pasti, perawat bilang akan ada kemungkinan saya dirawat terlebih dahulu. Selanjutnya, beliau menjelaskan saya akan diinfus jika sepakat untuk rawat inap dan akan di USG oleh dokter untuk melihat kondisi janin.
Saat itu saya dan suami hanya bilang, lakukan yang terbaik saja. Jika harus dirawat, saya bersedia. Sekitar 15 menit kemudian, perawat seperti sedang berusaha menghubungi dokter. Lalu, mengabari saya, saya akan dirawat di rumah sakit dan saat itu perawat bilang saya harus tunggu dokter untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya.
Akhirnya saya diinfus. Saat itu sudah cukup sore menjelang Magrib, saya bilang ke suami untuk cari makan siang dulu. Dia ke kantin rumah sakit untuk makan dan kembali membawakan roti dan susu untuk saya. Tidak lama kemudian dokter datang. Cara menyapanya sangat ramah dan cukup menenangkan. Selanjutnya dokter sedikit ngobrol dengan saya sambil menunggu suster yang menyiapkan alat USG.
USG pun dimulai, butuh waktu lama untuk dokter mencari letak kantung kehamilan saya. Saya sangat takut, dada saya sedikit sesak, rasanya ingin menangis sekuat-kuatnya karena sejak tadi sudah saya tahan sebisa mungkin. Suami saya menggenggam tangan saya. Akhirnya, dokter menyampaikan beberapa hal.
to be continue...

No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.