Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, rencana punya atau tidak punya anak pasti akan selalu jadi bahan diskusi yang menarik. Jangankan setelah menikah, sebelum menikah pun kadang ada pasangan yang sudah membahas akan punya anak berapa? Anak pertama ingin anak laki-laki atau perempuan? Dan masih banyak lagi.
Sama, saya juga kok. Sebelum menikah, saya sama Fathur tuh suka ngobrol ngalor-ngidul. Mulai dari masalah kerjaan, sesuatu yang "receh", sampai masalah ingin segera punya anak atau nggak setelah menikah, dan seterusnya.
Alhamdulillah, karena sejak awal kita sudah sepakat untuk tidak menunda kehamilan, ketika dikasih kesempatan dan rejeki dari Tuhan untuk segera hamil, kita bersyukur luar biasa. Biar pun kelihatannya semua kok berjalan cepat banget, tau-tau menikah, tau-tau mau punya anak, dan tau-tau sekarang anaknya sudah mau lahir aja. Yup! Ketika saya tulis konten ini, usia kandungan saya sudah memasuki 32 weeks 6 days atau kurang lebih 8 bulan.
Gimana rasanya? Rasanya nano-nano. Senang, antusias sudah pasti. Tapi, di balik itu semua, ada banyak hal yang sedang saya pikirkan. Mulai dari:
- Rencana persalinan,
- Barang-barang kebutuhan anak yang harus disiapkan,
- Biaya persalinan hingga mengurus anak,
- Siapa yang akan bantu mengajari saya dan mengurus anak saya saat saya mulai kembali bekerja,
- Kondisi rumah yang masih berantakan padahal sebentar lagi akan ada bayi,
- Apakah saya mampu untuk melahirkan anak saya nanti secara normal seperti yang saya idam-idamkan?
- Apakah saya sudah layak menjadi orang tua?
- Rasanya ingin mencari pekerjaan tambahan as a freelancer untuk menambah pemasukan rumah tangga,
- Nanti pas lahiran, rumah sakitnya mengizinkan Fathur untuk mendampingi saya saat proses persalinan nggak ya?
- Selalu khawatir kalau jauh dari Fathur, banyak pikiran-pikiran yang seharusnya nggak saya pikirin datang ke otak saya begitu saja,
- Fathur ilfeel nggak ya sama kondisi fisik saya yang begini?
- Dan masih banyak lagi kekhawatiran yang lainnya.
Untungnya, saya cukup sering bicara keluh kesah saya sama Fathur. Saya ungkapkan kekhawatiran saya. Dia pun cukup sportif dan positif, jadi dalam menghadapi semua kekhawatiran yang suka tiba-tiba muncul itu, saya lebih tenang.
Saya pikir, cukup bagi saya asal orang-orang terdekat saya itu bisa support dan bantu kuatkan mental saya. Terus, sebagai calon ibu, sebenarnya apa sih yang harus dilakukan? Nah, klo yang satu ini saya pun nggak tau pasti. Tapi yang bisa saya lakukan saat ini cuma cari tau banyak hal tentang proses kehamilan, persalinan, sampai menjadi orang tua nanti. Saya juga berusaha kasih tahu Fathur hal yang sama, supaya berjaga-jaga kalau-kalau saya lupa sama apa yang saya pelajari, setidaknya ada Fathur yang mau mengingatkan saya.
Salah satu hal yang juga bikin saya lebih tenang adalah kebetulan saat saya hamil ini, teman-teman disekitar saya juga ada beberapa yang sedang hamil. Jadi kami bisa saling cerita, bisa saling mengingatkan, dan memberi semangat. Belum lagi, orang tua yang super duper perhatian. Ibu saya selalu mampir ke rumah saya 1 kali dalam 3/2 hari. Beliau membatu saya mengurus pekerjaan rumah yang kadang suka nggak kepegang, seperti setrikaan baju dan ganti seprei. Banyak banget yang saya syukuri deh.
Belum lagi ibu mertua yang suka saya titipin makanan ini dan itu, terus selalu diusahakan ada. Perhatian dan caranya menasehati tidak terdengar menghakimi. Meski usia beliau sudah lanjut, tapi tampaknya beliau bisa menempatkan diri ketika berbicara sama anak muda seperti saya sama Fathur.
Belum lagi ibu mertua yang suka saya titipin makanan ini dan itu, terus selalu diusahakan ada. Perhatian dan caranya menasehati tidak terdengar menghakimi. Meski usia beliau sudah lanjut, tapi tampaknya beliau bisa menempatkan diri ketika berbicara sama anak muda seperti saya sama Fathur.
Kalau mau ngomongin yang sedih-sedih mungkin ada saja. Tapi sepertinya mood saya nggak untuk itu sekarang. Saya harap, teman-teman yang saat ini sedang hamil, meski banyak kekhawatiran yang suka muncul, sensitif, dan hal-hal yang sebenarnya kita sendiri kurang nyaman menghadapinya, bisa terus semangat dan positif demi kesehatan, kenyamanan, dan kemakmuran bayi yang ada di perut kita.
Semangat ya buk ibuk!
Semangat ya buk ibuk!

No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.