Saturday, March 18, 2023

Lembrando Part #1


Coffee Shop

Raine POV

Cuacanya cukup mendukung untuk bermalasan di kamar dengan kasur empuk dan selimut lembut. Tapi, tidak untuk aku yang sedang mengunjungi coffee shop dekat kantor. 

Oiya, namaku Raine, usiaku baru saja 23 tahun. Selain bekerja sebagai copywriter di salah satu perusahaan IT di Jakarta, aku juga aktif di media sosial sebagai content creator, dan menerima beberapa job freelance sebagai copywriter. Bisa dibilang, karirku dan keuanganku cukup stabil. Hanya perkara hati yang sepertinya aku kurang beruntung. 
Kembali ke coffee shop dekat kantor. Sebenarnya sejak pandemi, kantorku menganut sistem WFH (Work From Home). Namun, sesekali aku akan ke kantor untuk melihat dunia luar yang sudah jarang ku jamah, saking lebih sering kerja dan melakukan banyak hal di rumah. Anggap saja, salah satu caraku untuk refreshing berkedok kerja. Meski begitu, aku juga tidak ingin menghabiskan waktu lama di kantor. Segera kuselesaikan pekerjaanku dan mencari tempat untuk bersantai, sekadar minum kopi, makan cemilan, baca buku, atau mengerjakan side job-ku. 

Kebetulan sekali, tidak jauh dari kantor ada coffee shop. Tempatnya terbagi menjadi 2 lantai. Aku memilih untuk duduk di lantai 2 karena suasananya yang lebih nyaman dan pemandangan jalan raya dengan kendaraan yang berlalu lalang. Sebelum naik ke lantai 2, aku memesan Americano dan cookies. Ku letakan tablet di atas meja seraya menyandarkan badanku ke sofa empuk juga, menunggu namaku dipanggil untuk menjemput pesanan. 

Aku duduk di meja dengan 2 sofa kecil nyaman di sudut ruang dekat jendela. Aku memilih duduk di pojok dekat dengan jendela agar tidak terdistraksi dengan lalu lalang pengunjung lainnya. Saat turun ke lantai 1 untuk menjemput pesanan, mataku berhenti pada satu sosok yang sedang memesan. Aku rasa aku kenal. Cukup kenal sampai langkahku terhenti dan rasanya ingin mundur saja. Tapi lamunanku buyar saat barista memanggil namaku sekali lagi. Sepertinya tidak hanya aku saja yang terkejut. Sosok itu juga terkejut dan perlahan menengok ke arahku yang sedang berjalan menuju kasir. 

Saat itu waktu rasanya melambat, langkahku, bahkan tatapanku berpindah pelan.

Pandangan kami tak terelakan. Aku melemparkan senyum tipis canggung -- berusaha tenang, padahal hatiku rasanya sedang disiram perasan lemon (lagi). Ia melakukan hal yang sama, sambil memanggil namaku, "Hai, Rain".

"Hai, Gam! Apa kabar?" Balasku sedikit canggung.

Agam, seniorku di SMA dulu. Cinta pertamaku. 

"Baik, Rain. Kamu?" Tanyanya.

"Great! Duduk di mana?" Sesaat aku menyesal menanyakan ini.

"Belum tau. Kamu?"

"Di atas, mau gabung?" Wait, what? Aku bahkan mengutuki diriku sendiri yang dengan spontan mengajaknya bergabung. Aku harap dia menolaknya. 

"If you dont mind." Katanya dengan sedikit terbata-bata. 

Hatiku kelu. Tidak tau harus apa. Kami bahkan sudah menahun tidak bertemu dan hilang kontak. Aku sendiri sengaja melakukannya karena ingin sembuh. 

Sesaat suasana menjadi dingin, membuatku merinding dengan kelakuanku sendiri.

"Sure, nanti ke atas aja ya, mejaku ada di dekat jendela paling ujung." Akhirnya, aku menyambutnya.

Aku menuju mejaku duluan. Saat menaiki tangga, aku tidak henti-hentinya mengutuki diri sendiri. Terheran-heran dengan apa yang baru saja aku lakukan. Mengajaknya duduk denganku? Aku rasa aku sedang mencoba membunuh diriku sendiri. 

Agam POV

Hari ini cuacanya tidak cukup baik bagiku sebagai seorang fotografer. Mendung, tidak ada cahaya matahari senja yang biasanya bersahabat denganku. Akhirnya aku memutuskan untuk mampir ke salah satu coffee shop sekitar tempatku hunting. Suasananya benar-benar nyaman. Kupesan sesuatu yang hangat dan manis.

"Totalnya, seratus empat puluh tujuh ribu, kak!" 

Aku mengambil ponsel untuk memindai kode pembayarannya. Ketika sedang mencari ponsel di dalam tas, barista memanggil 1 nama yang tidak asing dan membuatku tertegun.

"Kak Raine...! Americano!"

Belum sempat menemukan ponselku, aku mendongak dan menatap petugas kasir di hadapanku.

"Jadi seratus empat puluh tujuh ribu, kak." 

Segera kubayar, setelahnya menoleh ke sosok yang sedang mengambil pesanannya.

"Hai, Rain" sapaku sedikit ragu.

"Hai, Gam! Apa kabar?" Terdengar jawabannya yang cukup canggung. 

"Baik Rain. Kamu?" Pertanyaan yang selalu ingin aku ucapkan.

"Great! Duduk di mana?" Masih Raine yang sama, ramah. Dia bahkan mengajakku untuk duduk satu meja dengannya. Meski aku yakin, dia tidak benar-benar mau satu meja denganku. Tapi, aku tidak bisa berbohong kalau kesempatan ini ingin aku manfaatkan untuk bisa mengatakan sesuatu yang belum sempat aku katakan dulu. Setelah hubungan kami berakhir. 

"If you dont mind." Kataku tanpa ragu. Apakah ini waktunya? Mumpung ketemu, sepertinya ada yang mau sampaikan. Closure (?). 

"Sure, nanti ke atas aja ya, mejaku ada di dekat jendela paling ujung." Katanya dengan senyum yang masih sama. 

"Oke, Rain!" Kataku mengiyakan.

Aku pikir aku salah lihat ketika ada sosok tidak asing masuk ke coffee shop ini. Aku kira hanya halusinasi karena beberapa waktu lalu teman-temanku menyebutkan namanya saat bertemu di acara pernikahan kenalan kami yang tidak bisa aku hadiri. Ternyata itu benar-benar Raine. Adik kelasku di SMA dan menjadi kekasihku. Iya, kami sempat menjalin hubungan beberapa bulan. Aku tahu dia menyukaiku, namun tidak pernah dia tunjukkan. Aku hanya mengetahuinya dari teman-temanku yang terkadang melihat dia sedang memperhatikanku dari jendela kelasnya. 

Kami banyak berbincang. Raine sosok yang asik untuk diajak bicara. Dia pendengar yang baik. Aku bahkan bisa bicara banyak hal kepadanya tanpa terputus. Dia merespon dengan antusiasnya saat aku bicara. Kami punya hubungan yang menyenangkan saat bersama.

"Kak Agam...! Kak Agaam!" Panggil barista, menyadarkan lamunanku.

"Terima kasih!" Kataku.

Saat menaiki anak tangga, aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana saat di hadapannya nanti. Sempat terpikir, apakah aku salah menerima tawarannya untuk duduk bersama? Tidak, ini kesempatanku untuk bicara. Aku tidak tahu apakah ada lagi kesempatan seperti ini. Aku tidak ingin melewatkannya meski rasanya dadaku seperti ditekan kuat-kuat. Ada yang ingin kujelaskan. 

to be continued ... 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.