It's Been A Long Time
Sesampainya di anak tangga terakhir, mataku menatap punggungnya. Raine, perempuan yang masih membuatku berdebar. Langkahku pelan menghampirinya yang tampak melihat ke luar jendela dengan tatapan kosong sambil memegang Americano dingin kesukaannya.
"Rain," panggilku membuyarkan lamunannya.
"Hai! Duduk," jawabnya terkejut nyaris tersedak.
Aku duduk di hadapannya seraya meletakan kopi dan ponselku di atas meja, serta tas di samping kursi. Raine masih tersenyum canggung menunduk menatap gelas kopi yang penuh embun karena esnya mencair. Sesekali ia menyesapnya sambil menatap ke luar jendela. Entah apa yang diliatnya atau apa dia pikirkan, namun aku tahu saat ini dia merasa tidak terlalu nyaman berhadapan denganku. Dengan seseorang yang pernah membuat luka hatinya.
Raine POV
Duduk di dekat jendela sambil memandang ke luar memang menjadi kebiasaanku saat berada di coffee shop ini. Namun, kali ini pemandangannya sedikit kabur. Otakku lebih banyak bekerja daripada menikmati pemandangan mendung yang seharusnya menjadi favoritku seperti biasa.
"Rain," suara yang telah lama tidak terdengar dan sangat ku kenal, memanggilku (sekali lagi).
"Hai! Duduk." Aku mempersilakannya untuk duduk. Ia duduk di hadapanku.
Jangan tanya bagaimana perasaanku saat ini. Jantungku seperti tersiram air dingin. Pipiku terasa panas, namun mataku seperti berembun. Tidak ada kata yang kusiapkan untuk momen ini. Aku memaksakan senyumku sambil menunduk, sesekali meminum kopiku.
Aku masih berharap bahwa ini hanya mimpi, aku tidak pernah siap dengan situasi ini. Membayangkannya saja tidak pernah.
"Rain, kamu sering ke sini?" Tanyanya memecah lamunku.
"Hm, nggak juga, kak. Sesekali aja kalau lagi butuh kopi." Jawabku.
"Setiap hari dong? Bukannya kamu setiap hari minum kopi?" Balasnya berusaha memecah kecanggungan.
"Hehe, nggak sih. Kalau lagi malas bikin sendiri di kantor, ya aku ke sini biar tinggal minum. Kakak sendiri tumben minum kopi? Emang udah makan?" Lagi-lagi aku melakukan kesalahan. Mulutku memang sedikit sulit dikendalikan. Pasti saat ini Agam sedang berpikir bahwa aku masih ingat semua tentangnya. Termasuk asam lambungnya yang dulu sering kambuh dan selalu aku yang ingatkan untuk tidak telat makan atau konsumsi sesuatu yang memancing asam lambungnya naik. Meski betul aku ingat, tapi harusnya tidak perlu kutunjukan, bukan?
"Hm, aku minta takaran kopinya cuma sedikit kok." Jawabnya sambil tersenyum menatapku lekat.
Rasanya aku ingin teriak dan bilang 'JANGAN SENYUM!' karena dia tahu dahulu aku jatuh hati karena senyum dan suaranya. Tapi aku tahu, dia memang begitu. Tidak ada maksud membuat jatuh hati, tapi itu karismanya tanpa ia sadari.
Agam POV
Raine dengan segala perhatiannya, masih sama seperti dulu. Dia bahkan ingat aku tidak terbiasa minum kopi karena penyakit lambungku yang sering kambuh. Dulu, Raine selalu menyelipkan cemilan ringan ke tasku saat aku datang ke rumahnya untuk kubawa saat kerja esoknya. Berjaga jika aku telat makan agar maag-ku tidak kambuh.
"Hm, aku minta takaran kopinya cuma sedikit kok." Jawabku takjub menatapnya.
"Rain, kamu baik-baik sajakah setelah kita pisah?" Pertanyaan yang selalu ingin kutanyakan setelah kita berpisah, akhirnya bisa kuucapkan sekarang, meski sedikit takut membuka kembali lukanya. Aku sangat penasaran dengan keadaannya, dia yang selalu memendamnya segalanya sendiri. Aku tahu betul dia akan membuat dirinya semakin sibuk ketika ada sesuatu yang membuatnya sedih. Melampiaskan kekesalan, kecewa, dan marahnya ke kegiatan yang membuatnya teralihkan dengan semua emosi itu. Raine selalu begitu meski dia tidak sekuat itu. Aku khawatir malam-malamnya lebih pekat dari biasanya. Aku takut hanya ada isak di kamar temaramnya.
Aku? Aku bahkan tidak pernah merasa baik-baik saja setelah berpisah dengannya.
Aku menatapnya yang mulai berani menatapku lekat sekilas. Aku tahu pertanyaan itu sangat tiba-tiba. Dia bahkan tampak kehilangan cukup banyak berat badan.
"Hm..." Jawab Raine mengangguk sambil meminum kopinya. Dia lagi-lagi mengalihkan pandangannya dariku.
Aku menghembuskan nafas berat dan berkata "Maaf. Aku nggak pernah bilang maaf dengan benar setelah kita pisah."
Sepi ini seperti mencabikku perlahan. Perih sekali rasanya.
"I'm not ok." Kata Raine tiba-tiba sambil menatapku lekat dan memecah keheningan yang cukup lama.
Raine POV
Aku menatapnya lekat. Ia menunduk sambil berkata, "Maaf. Aku nggak pernah bilang maaf dengan benar setelah kita pisah." Dadaku sesak, mengingat kembali bagaimana ia memutuskan hubungan kami.
Dia bahkan tidak pernah membalikan badannya saat aku memanggilnya berkali-kali dengan sisa suaraku malam itu. Ia seperti ingin benar-benar menghapusku, tidak pernah menghubungiku barang sekali. Hilang seperti ditelan bumi. Aku sama sekali tidak bisa menemukan jejaknya di sekitarku. Bahkan, di tempat yang biasa kami datangi. Hingga akhirnya semua emosi itu berkumpul hari ini karena kehadirannya.
Aku meletakan kopi yang sedari tadi kugenggam, menarik nafas dalam, cukup lama aku menatapnya yang masih menunduk, sampai "I'm not ok." Kataku dengan snyum yang kupaksakan menahan luka yang belum pulih sama sekali. Mungkin dengan genangan di mataku juga. Aku tak sadar.
Mata kami bertemu, aku tersenyum nanar menatapnya. Aku hanya ingin jujur dan sembuh. Kami cukup lama saling menatap seolah kami berbicara hanya lewat mata sendu penuh sesak. Sampai akhirnya dia menunduk, menarik napasnya berat, menatapku kembali, dan "Apakah kamu mau aku pergi sekarang?" Tanyanya.
Masih menatapnya dan lagi-lagi kutarik napas panjang, "Nggak, tapi kalau kakak mau pergi, lagi... Nggak apa-apa." Jawabku tenang sedikit sarkas.
Dia menggigit bibirnya, tanda tak enak hati. Beberapa saat hanya ada sunyi, sesekali suara klakson kendaraan, bising pengunjung coffee shop yang sedang bercengkrama, dan air gerimis yang menghantam atap kanopi coffee shop tempat kami berada. Dadaku tidak lagi sedingin tadi. Kini sudah lebih hangat, entah apa sebabnya. Tapi lebih nyaman, sampai aku bisa sedikit bersandar pada kursi.
Agam POV
"Apakah kamu mau aku pergi sekarang?" Tanyaku, meski aku berharap Raine tidak menjawab 'iya'.
Aku rasa Raine memang tidak banyak berubah. Dia masih menjadi wanita yang manis namun tegas. Dia tahu apa yang dia mau, dia jujur dengan apa yang dia rasakan. Tapi dia bisa membuatku tetap merasa nyaman dengan kejujurannya yang mungkin menyakitkan.
Suasana hening cukup lama. Hingga gerimis mulai berubah menjadi hujan. Membuatku kilas balik momen bersama Raine dulu. Kami biasanya akan saling menggenggam tangan satu sama lain untuk saling menghangatkan. Tentu tidak akan terjadi saat ini. Raine masih menatap jendela, sesekali meminum kopinya, dan melipat tangan di dada tanda kedinginan.
Sambil mengubah posisi duduknya dan sedikit mendekat, Raine berkata kepadaku dengan lembut, "Kak, aku sudah maafin kamu. Aku sudah berdamai dengan diriku sendiri. Aku harap kamu juga. Semua yang kita lewati sangat berkesan buatku. Aku rasa dengan semua kenangan manis itu, kamu sudah nggak perlu lagi merasa bersalah. Aku sudah baik-baik saja. Masalah lukanya, aku bisa sembuhin sendiri. Jangan khawatir. Hm... aku minta maaf kalau kemarin aku bukan sosok yang kamu mau. Aku, kebetulan harus pergi sekarang karena ada hal yang harus aku selesaikan. Nice to meet you again. Hati-hati nanti pulangnya." Seperti kemarin, Raine tahu betul yang kupikirkan.
Aku bahkan tidak bisa mengatakan apapun lagi. Hanya bisa menatapnya berlalu tanpa menoleh ke arahku lagi.
Dari jendela aku melihat Raine berlari kecil dan menutup kepalanya dengan tas menuju mobilnya. Masih ada sisa gerimis dan mendung. Aku masih duduk menatap langit dengan kopiku yang sudah hambar karena es nya meleleh.
Raine POV
Sebelum aku menuju ke mobil, kusempatkan ke toilet untuk menenangkan diri setelah berusaha sekuat tenaga mengumpulkan keberanianku untuk menghadapinya. Tidak terasa air mataku jatuh, dadaku kembali sesak, aku hanya ingin pulang dan istirahat. Bertemu dengan Agam cukup menguras energiku. Meski tidak bisa kupungkiri aku pun senang bisa bertemu lagi.
Tidak ingin berlama-lama di toilet, aku segera keluar, menuju mobil. Ternyata masih gerimis dan masih dengan air mata yang tidak bisa kuhentikan. Aku bergegas masuk mobil, berusaha tenang, menyalakannya, dan pulang.
to be continued ...

No comments:
Post a Comment
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.