Wednesday, February 3, 2021

Perjalanan Bertemu Biru Part #2



Nak, sejujurnya Ibun takut sekali dioperasi. Ibun bahkan tidak pernah di rawat di rumah sakit. Apalagi harus menjalani operasi? Tidak pernah terbayangkan sama sekali. Dengan ketakutan itu, sambil menangis Ibun diskusi sama ayah kamu dan oma. Ayah bilang kalau Ayah takut Ibun dan kamu kenapa-kenapa kalau harus memaksakan untuk normal. Tapi, Ayah tidak lupa bertanya, apa yang saat itu Ibun rasakan. Oma pun menanggapi hal yang sama.
 
Ibun yang notabene mau banget untuk lahiran normal, hari itu masih ngotot untuk meminta waktu 2-3 hari untuk berusaha membuat kamu turun ke panggul ibun sehingga kita bisa lahiran normal. Stigma negatif tentang melahirkan sesar berseliweran di kepala Ibun. Hal itu juga yang membuat Ibun menolak untuk sesar. 

Akhirnya, setelah pemeriksaan itu kita pulang. Saat di rumah, Ibun merasa lelah sekali. Ibun minta waktu sebentar untuk istirahat. Kurang lebih 2 jam Ibun tidur. Saat terbangun, Ibun langsung mandi dan main gymball cukup lama sambil memberikan afirmasi positif ke pikiran dan hati Ibun. Tidak lupa berkomunikasi sama kamu, membujuk kamu untuk turun ke panggul Ibun. 

Malam harinya, Ibun sudah merasakan mulas yang cukup terasa namun jaraknya masih jauh-jauh sekali. Ibun tau itu hanya kontraksi palsu, namun fleknya keluar cukup sering dan kadang-kadang banyak.

Keesokan harinya, masih sama. Ibun merasakan kontraksi, namun jaraknya masih jauh antar kontraksi. Malam harinya, di sepertiga malam Ibun berdoa, setelah berdoa panjang, Ibun ajak ngobrol kamu, sambil sesekali masih merasakan kontrakasi yang makin kuat rasanya meski masih sangat bisa ditoleransi. Sambil menangis Ibun bilang sama kamu, "Anakku, Biru sayang, kamu mau bertemu ibu dengan cara apa, nak? Hati dan pikiran Ibun sudah jauh lebih tenang, Ibun mau kita semua bertemu dengan kondisi yang membahagiakan sesuai dengan cara yang kamu pilih. Kasih tanda ke Ibun kalau kamu sudah ingin segera bertemu dengan kami ya sayang." 

Malam itu Ibun tidur dengan nyenyak setelah berdoa dan sedikit berbincang sama kamu. Ketika subuh Ibun terbangun. Setelah sholat subuh, entah kenapa Ibun yakin untuk menjalani operasi sesar saja. Apakah itu kamu yang meyakinkan ibun? Entah, yang pasti setelah berdoa, Ibun langsung bilang sama Ayah untuk menghubungi dokter.

Ayah segera menghubungi dokter untuk menentukan jadwal operasi sesar. Setelah mengambil keputusan itu, tidak ada lagi sedih atau khawatir yang Ibun rasakan, nak. Yang ada di pikiran Ibun hanya Ibun akan segera bertemu sama kamu. Ibun akan segera memeluk kamu, menyusuimu, menggendongmu, menciummu. 

Akhirnya, dokter menentukan jadwal operasi pada 24 Februari 2020

Sekitar jam 8 pagi Ibun sudah ada di rumah sakit. Seluruh prosesnya tidak begitu lama. Seluruh prosedur Ibun jalani dengan senang meski ada sedikit deg-degan dan menggigil karena Ibun tidak pernah sama sekali melakukan operasi.

Saat itu, Ayah dan Oma selalu mendampingi Ibun. Terutama ayah, tidak pernah sekali pun Ayah meninggalkan Ibun kecuali saat mengurus administrasi rumah sakit. 

Tiba saatnya Ibun masuk ke ruang operasi. Saat itu, ayah menemani Ibun sampai depan pintu ruang operasi. Kami sedikit bercanda. Kamu tahu, saat itu wajah Ayah terlihat khawatir sambil terus menggenggam tangan Ibun. Malah Ibun yang bilang, "Jangan khawatir, sebentar lagi mau ketemu Biru. Harus happy." Lucunya saat Ibun mulai khawatir, kata-kata yang sama juga dilontarkan sama Ayah ke Ibun. Kami pun hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil.

Saat masuk ke ruang operasi tanpa ditemani ayah, Ibun hanya bisa solawatan dan terus berdoa supaya segalanya dilancarkan. Ibun bertemu dengan dokter anestesi, ia menjelaskan beberapa hal seputar anestesi yang akan Ibun jalani sebelum operasi. Ibun bertemu dengan suster pendamping selama persalinan. Ibun juga bertemu dengan bruder dan suster di dalam ruang operasi yang akan membantu proses persalinan. Sepanjang prosesnya Ibun tidak henti-hentinya berdoa supaya kita bisa segera bertemu dengan selamat. 

Proses anestesi pun di mulai. Tidak lama setelah disuntik anestesi di bagian punggung bawah, Ibun merasakan kebas dari bagian perut hingga kaki. seperti lumpuh rasanya. Tidak lama bruder memasangkan selang kateter ke kantung kemih Ibun. Setelah itu, Dokter Ricky yang selama kehamilan selalu memeriksa kondisi kita pun datang. 

Sedikit memecahkan suasana tegang, Dokter Ricky bergurau, "Santai aja Ibu, tegang sekali kelihatannya. Sebentar lagi kita mulai ya." Katanya dengan nada ceria membuat Ibun pun jauh lebih tenang. 

Ruang operasi itu sangat dingin, Bi. Ibun tentu masih tegang. Seolah bisa membaca raut tegang di wajah Ibun, suster pendamping Ibun pun memutarkan lagu-lagu bernada ceria. Sejujurnya itu tidak cukup membantu, Ibun masih tegang menunggu kehadiran kamu. 

Selama proses bersalin, Ibun kedinginan sekali. Sampai akhirnya ibun tidak tahan dan bilang ke suster pendamping Ibun bahwa Ibun menggigil. Tidak lama, suster meberikan penghangat yang selangnya diselipkan melalui pakaian operasi Ibun. Rasanya jauh lebih rileks.

Kurang lebih 1 jam, Ibun sudah mendengar suara tangisan kamu. Tidak terasa air mata haru langsung keluar dari mata Ibun. Rasanya bahagia sekali nak mendengar suara tangisan kamu yang luar biasa kencang. Setelah kamu dibersihkan sebentar, kita pun dipertemukan kembali untuk melakukan IMD atau Inisiasi Menyusui Dini. Sayang, durasi yang diberikan untuk IMD tidak begitu lama karena kamu langsung bisa bertemu dengan puting Ibun. Kurang lebih 5 menit. 

 Sekitar 1 jam Ibun keluar dari ruang operasi namun belum masuk ke ruang rawat, masih belum bisa bertemu kamu. Kondisi Ibun masih lemas dan masih sangat mengantuk. 

Akhirnya, setelah kira-kira 1 setengah jam belum bisa bertemu siapa pun, Ibun keluar dari ruang operasi. Ibun akhirnya bertemu dengan Ayah, Oma, Engkong, dan Nenek kamu, Bi. Kondisi Ibun masih sangat mengantuk dan belum bisa bertemu dengan kamu. 

Kita lanjutkan di Perjalanan Bertemu Biru Part #3 ya! 
To be continued... 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.