Friday, May 4, 2018

Perihal Menikah

Photo credit: Shutterstock
Sebelum memulai kesoktahuan gua, izinkan gua berkata, WAH GILA LU! UDAH LAMA BANGET NGGAK NGEBLOG! Kalau nggak salah sudah dua bulan lamanya gua nggak nulis di blog, padahal sesekali gua buka buat lihat-lihat. Ngecek viewsnya nambah apa kagak, ternyata sama saja, untung aja nggak lumutan nih blog. Mungkin ini pertanda gua harus jauh lebih rajin lagi ngeblog.

So, first of all I just wanna say that today my Ayah's birthday! Yey! Tapi bukan itu yang akan gua bahas ya. Postingan kali ini gua lagi mau sok tahu aja sih sebenernya soal pandangan gua tentang pernikahan. Kenapa keisengan dan kesoktahuan yang gua bakal bahas perihal menikah? Kebetulan, gua sama 'teman' gua yang sekarang ini, memang sedang merencakan penikahan. Usia gua baru 23 tahun, dia pun sama. Kita teman sekolah tapi baru sadar saling nyaman saat kuliah, terus kita sudah bareng as partner selama 3,5 tahun. Oke, itu cuma basa-basi aja.

Kalau bicara soal menikah, pandangan setiap individu udah pasti beda. Ada yang memutuskan untuk menikah sangat muda, ada yang menikah di usia yang dianggap ideal secara umum sama orang, which is 24-27 tahun. Ada yang memilih menikah di atas usia 30 tahun atau malah ada yang memilih untuk melajang aja seumur hidup. It's up to you. Hidup itu pilihan cuy! 

Beda orang, beda pemikiran, dan beda juga nasibnya. Kalau gua pribadi, gua memilih untuk menjadi orang yang menikah di usia yang katanya cukup muda, 24 tahun (mudah-mudahan loh itu juga). Awalnya, saat sekolah dasar gua malah ingin menikah setelah lulus SMA karena sejak kecil aja gua suka sama anak kecil dan belum ada pikiran mau sekolah sampe kapan. Kepengin segera punya anak, biar anaknya bisa kayak teman karena usianya tidak terpaut jauh. Gila nggak lu, SD gua mikir nikah muda, anak SD macam apa gua. Setelah SMP, gua sudah mulai concern sama pendidikan, gua berpikir akan lebih baik kalau gua menikahnya nanti aja setelah lulus kuliah. Masuk ke masa SMK gua kepengin menikah di usia 27-30 tahun aja. Alasannya, karena mau mengenyam pendidikan jauh lebih tinggi dan pengin punya karier yang baik.

Belakangan, ketika kuliah dan di hadapkan dengan segudang kegiatan yang bikin pengin meninggal, rasanya gua pengin kawin saat itu juga! Saking nggak mau repot sama tetek bengek perkuliahan dan segala hal tentang kehidupan kuliah. Padahal, kalau dipikir, menikah sekarang atau nanti tidak akan menghilangkan ke'seru'an hidup juga kan? 

Semua pikiran dan pilihan gua terus berubah seiring berjalannya waktu dan keadaan. Sampai akhirnya gua ketemu Fathur, yang ternyata sejak awal dia sudah yakin sama gua. Tahun pertama pacaran bahkan dia sudah terus bicara soal pernikahan. Sedangkan gua? Duh, masih suka bete kalau dia ngomong soal nikah, karena kondisinya gua pun belum lulus kuliah dan masih sangat ingin belajar dan berkarier. Terus di tahun ke 2 dia mantap ingin melamar sampai sudah bicara sama ayah secara langsung, tapi niatnya terhalang dengan keadaan. Let's not talk abaout that, karena it's too nyakitin baik buat dia maupun gua. Mulai saat itu yang ada dipikiran hanya berdoa untuk dipermudah dan jalanin aja mau sampe mana tujuan dari semua ikhtiar kita. Karena mau ngotot kayak sebelumnya, malah jadi kesandung dan dijewer Tuhan. 

Ada banyak juga alasan orang ingin segera menikah atau menunda untuk menikah. Kalau gua pribadi, salah satu alasan kuat mengapa lebih baik gua segera menikah setelah 3,5 tahun dekat dengan Fathur adalah (selain untuk menyempurnakan agama ya. Let's not talk about agama ya. Terlalu berat buat gua. Elmunya belum ada seujung sendok teh acan) supaya si ayah nggak khawatir. 

Gua anak perempuan satu-satunya Ayah. Kita tinggal di beda tempat sejak ayah dan mama divorce. Ayah tinggal dengan istri, anak sambungnya, dan adik gua. Sudah tentu beliau tidak bisa memantau apa saja yang dilakukan anak perempuannya. Gua paham betul seberapa besar kekhawatiran orang tua gua. Meski gua tinggal sama mama, yang namanya bapak pasti selalu khawatir sama anak perempuannya, apalagi jauh. Meski sudah gua yakinkan bahwa anaknya baik-baik saja, but father still father who always feel worried about his daughter. Tapi, gua merasa sangat bersyukur memiliki orang tua yang sportif dan kasih kepercayaan penuh sama anaknya. Sejak kecil, bokap nggak pernah bener-bener menuntut anak-anaknya untuk jadi apa yang dia mau, biar kita yang menentukan sendiri pilihan kita. Dari situ justru gua jadi sangat menjaga baik-baik kepercayaan orang tua, supaya gua bisa tetap jalani apa yang gua mau, tentu dengan tanggung jawab penuh akan hal tersebut.

Sama seperti menikah, ayah bahkan tidak pernah tidak suka dengan orang-orang yang dekat sama gua sejak dulu. Apalagi sama yang sekarang, malah kayaknya ayah jauh lebih banyak ngobrol sama Fathur ketimbang sama gua. Hal itu jadi salah satu alasan gua cukup yakin dengan Fathur.

***

Perihal menikah, gua merasa sudah saatnya gua melangkah ke sana. Entah kapan terwujudnya, yang pasti bikin ayah tenang adalah salah satu tujuan gua untuk segera menikah. Selain itu memang karena gua tidak menemukan alasan lagi untuk menolak menikah sama Fathur. Kalau ada yang mengatakan gua menikah di usia 24 tahun adalah usia yang belum dewasa dan sangat muda, ya nggak apa-apa juga. Sekali lagi, gua tidak mengatakan alasan ini salah dan alasan itu paling benar. Tidak ada yang salah, karena kembali lagi, semua orang berbeda pemikiran, berbeda pilihan, dan paling penting berbeda nasib. 

So, that's all I wanna say. Gua paham postingan ini mungkin tidak berguna-berguna amat untuk kalian. Gua cuma mau ngoceh aja soal pernikahan. Tapi, kalau memang ada yang bisa dipetik dari omongan ini, gua amat sangat bersyukur dan berterima kasih tentunya. Satu lagi deh, jangan lupa bahagia. Apapun yang kalian pilih, pastikan hal itu sudah dipertimbangkan dengan masak. Urusan bagaimana hasilnya, jangan pernah menyesal karena itu yang kalian pilih. Bersyukur aja, karena bersyukur adalah anugerah Tuhan yang paling nikmat. Dah! 


1 comment:

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.