Sunday, October 15, 2017

Soal Luka, Sesal, dan Pendewasaan Diri yang Membentuk Diri Saya Hingga Kini





Sebelumnya saya mau kasih tau kalau cerita ini sebenarnya sudah pernah saya ceritakan atau tuliskan untuk media tempat saya bekerja. Awalnya super ragu, karena takut cerita ini bukan sesuatu yang berguna untuk orang lain. Well, ya sebenernya emang iya sih. Cuma setelah berani cerita hal ini, ternyata respon orang sangat positif dan temen-temen jadi merasa ada sesuatu yang bisa mereka petik. So, berhubung sepertinya ada sedikit manfaatnya dan kebetulan blog ini juga sepi banget, jadi saya rasa, saya akan bagikan cerita saya ni juga di sini. 

Ini tentang perubahan terbesar yang pernah terjadi dalam hidup saya. Saat itu saya baru masih muda banget, sekitar usia 16 tahun kalau tidak salah.

Saat usia masih sebelia itu (ciye belia) saya sudah sering banget tuh dengar kedua orang tua saya bertengkar hebat. Kebetulan saya anak pertama dari 2 bersaudara, adik saya usianya 3 tahun di bawah saya. Berarti saat itu usianya masih 13 tahun. Ketika kedua orang tua saya bertengkar, saya dan Bintang, adik saya  berusia 16 tahun (kelas 12) dan orang tua saya sudah sering sekali bertengkar di depan anak-anaknya. Saya adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Ketika kedua orang tua saya bertengkar, saya dan adik laki-laki yang saat itu hanya bisa diam di dalam kamar, sambil menangis, dan berharap kebisingan itu segera berhenti. Tidak hanya pertengkaran mulut yang kami dengar, tak jarang juga pertengkaran disertai jerit kesakitan ibu saya. Saat itu yang saya ingat, adik saya mendekati saya tanpa bertanya dan berkata apa pun, namun air matanya terus mengalir deras, tanpa suara. Kami hanya diam dan ketika pertengkaran kedua orang tua kami berhenti, kami dengan kompak pura-pura tertidur. Meski mungkin orang tua kami paham betul, terutama ibu kami, tahu kami hanya berpura-pura.

Sebagai anak pertama, namun dengan usia yang masih muda dan labil saat itu, saya bahkan tidak tahu harus apa. Beruntung banyak teman yang dengan sangat baik mau menemani, mendengar, dan senantiasa bersabar meski saya sering menangis tiba-tiba. Saat itu saya sedang disibukkan kegiatan ektrakurikuler seni drama teater di sekolah. Latihan dari sore hingga malam hari. Jadilah saya punya banyak kesempatan untuk tidak mendengarkan pertengkaran yang terkadang tiba-tiba saja muncul. Namun, saya merasa menyesal ketika saya membiarkan adik saya menyaksikan sendiri pertengkaran itu di rumah tanpa saya temani. Saya paham betul, pasti ia mencari saya dan merasa sangat tertekan. Saya sering berada di luar rumah, di tempat latihan teater hingga sering menginap. Adik saya selalu menunggu saya pulang, tapi kala itu saya tak menyadarinya. 


Perpisahan kedua orang tua memberi perubahan besar pada hidup dan diri saya sendiri

Saat lulus sekolah dan mau mulai kuliah, kedua orang tua saya sudah mulai mengurus perceraian mereka. Tapi sejak itu, mereka seperti sedang mencari perhatian kepada kedua anaknya. Alasannya tentu agar kamu bisa ikut dengan salah satu dari mereka. Kebetulan saat itu usia saya sudah 17 tahun. Saya sibuk mengurus pendaftaran kuliah, mereka mengurus perceraian, dan mengurus sekolah adik saya yang saat itu akan masuk ke pesantren.

Saya memutuskan untuk tinggal di kos-kosan saat mulai kuliah. Bukan tanpa alasan saya memilih untuk kos, dan saya yakin bukan tanpa alasan juga adik saya memilih untuk masuk pesantren. Kami hanya sulit untuk memilih akan ikut dengan siapa ketika mereka benar-benar berpisah. Sejak kedua orang tua saya sering bertengkar dan akhirnya bercerai, saya merasa dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya. Saya berusaha menjadi sosok yang harus madiri, harus melakukan segala hal dengan baik tanpa cela. Tujuannya, agar orang-orang di sekitar saya tidak mencibir saya dan adik atau pun kedua orang tua kami.

Saya benci ketika melihat tatapan kasihan orang-orang kepada saya dan adik saya karena orang tua kami bercerai. Saya benci ketika banyak orang berspekulasi mungkin kami akan mendapatkan kehidupan yang hancur, menjadi anak yang begajulan setelah mereka (kedua orang tua saya) bercerai.

Saya memaksa diri untuk bisa menjadi anak yang setidaknya tidak mempermalukan kedua orang tua. Saya anak pertama mereka, saya hanya tidak mau membuat mereka kecewa karena kelakuan saya di luar sana. Yang saya tahu, saya hanya perlu menjadi anak yang baik.
Seandainya saya bisa kembali ke masa lalu, saya ingin sekali menyampaikan ini kepada orang tua dan adik saya 
Tentu ada banya sekali yang ingin saya katakan kepada keluarga saya. Namun, lagi-lagi saya bukan anak yang pandai mengungkapkan perasaan saya secara langsung kepada mereka. Namun, jika kesempatan dan keberanian itu datang, saya ingin bilang kalau saya sedih, tapi saya bersyukur lahir dalam keluarga ini, karena saya dapat pelajaran yang tidak semua orang dapatkan. Saya jadi salah satu orang yang dipilih Tuhan menjadi anak yang kuat. Saya ingin bilang, saya sayang banget sama Mama dan Ayah. Saya ingin ibu dan ayah saya bahagia dan tidak terbebani karena anak-anaknya. Saya juga ingin minta maaf kepada adik saya, karena ketika orang tua kami bertengkar hebat, mungkin saya tidak bisa ada di sampingnya, sehingga tidak ada pegangan untuknya atau sosok yang menguatkan adik saya. Kini kami bahkan tidak akur seperti saat kecil dulu.


Jika teman atau orang terdekat kamu berada pada posisi yang serupa dengan saya, inilah yang mereka butuhkan, menurut pengalaman saya


Orang sekitar mungkin hanya perlu menemani mereka yang mungkin memiliki cerita serupa dengan saya. Karena memang kami hanya butuh ditemani, didengarkan, diarahkan untuk tidak berbuat hal yang merugikan kami. Kami tidak butuh tatapan nanar orang-orang karena hidup kami. Kami hanya butuh berada dalam lingkup yang bisa menguatkan kami, menemani meski tidak ada obrolan apa pun.

Untuk diri saya di masa lalu

Kamu sebenarnya bisa melakukan hal yang mampu membuat kedua orang tua kamu tidak jadi bercerai. Tapi jangan menyesal, karena kamu cukup baik melewatinya. Hanya cukup jalani hidup yang tersisa dan belajar dari mereka.

***
Untuk teman-teman yang pernah melewati masa-masa yang sama seperti saya, saya harap kamu menjadi sosok yang kuat dan sosok yang membanggakan. Kita adalah anak yang dipilih Tuhan untuk menjadi lebih kuat setiap harinya. Jangan gentar, jangan malu, jalani hidupmu dengan baik dan penuh semangat! 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.