Sunday, August 12, 2018

A Letter to Fathur



Dear Fathur,

Butuh waktu lama untuk memilih kata-kata di awal paragraf ini. Tadinya, saya ingin memulainya dengan mengucapkan ulang tahun, namun tidak jadi. Kemudian saya memutuskan untuk mengawali kalimat dengan bersyukur karena memilikimu sebagai orang yang memiliki hatiku, lalu tidak jadi lagi. Akhirnya, saya mulai menarik napas panjang dan mengawalinya dengan kata-kata yang tidak romantis seperti ini. Iya, saya tahu. Ini sudah biasa terjadi. Saya memang bukan orang yang romantis.

Namun, izinkan saya sekali ini bicara tentangmu. Tentang orang yang hingga saat ini membuat saya kebingungan, “Kok bisa ya kita sedekat ini sekarang?”, sekaligus lega karena orang itu adalah kamu.

Menjadi orang yang memiliki ruang super nyaman di hatimu sebenarnya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Selama 3 tahun berada dalam 1 kelas yang sama saat SMK, kemana saja? Kadang, saya tertawa mendengar pertanyaan itu terlontar dari setiap orang yang baru tahu tentang kita, bahkan sering juga saya tanyakan pada diri sendiri. Jadi, jika ada yang bertanya seperti itu, mungkin saya akan jawab tidak tahu atau paling tidak jawabannya bisa jadi seperti ini,

“Saat itu Tuhan sedang mempersiapkan hati kami dahulu untuk menjadi sedikit lebih dewasa, baru Dia persatukan kami saat waktunya sudah tepat.”

Saya bersyukur mengenalmu lebih dekat 3 tahun belakangan ini. Saya bersyukur karena kita dekat ketika kita siap, kita dekat ketika kita mulai sedikit dewasa dan bijaksana, kita dekat ketika kita mulai tahu mana yang benar dan salah dengan cukup baik. Saya bersyukur kamu datang di waktu yang tepat. Entah waktunya benar-benar tepat atau tidak, yang pasti saya bersyukur kita dekat saat ini. Saya berterima kasih karena Tuhan memang selalu tahu apa yang saya butuhkan. Kamu salah satunya.

Dear Fathur,

Terima kasih sudah selalu sabar menghadapi saya, terima kasih mau mengerti apapun keadaan saya, terima kasih sudah berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari, terima kasih untuk selalu menghargai saya dan dirimu sendiri, terima kasih sudah pandai membuat lelucon yang membuat saya menangis dan meringis karena kadang terlalu hambar, terima kasih untuk setiap genggaman tangan terhangat, dan terima kasih untuk mau berbagi air mata serta senyum yang saling kita nikmati.

Saya juga ingin berterima kasih untuk kedua orang tuamu yang telah mendidikmu dengan baik sehingga kamu mampu memperlakukanku dengan baik. Selamat ulang tahun ke 24. Tak perlu kujabarkan doa terbaikku untukmu di sini. Karena Tuhan pasti tahu doaku untukmu dan apa yang kamu butuh. You’ve did well for every step you took. Once again, happy birthday my sweetheart. God bless you, may your life filled of happiness, joy, and love.


From your sweetheart,

Rani
12-08-2018
00:00 WIB

2 comments:

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa beri kritik dan saran yang membangun supaya Blog ini bisa lebih bermanfaat lagi.