Dear Fathur,
Butuh waktu lama untuk memilih
kata-kata di awal paragraf ini. Tadinya, saya ingin memulainya dengan
mengucapkan ulang tahun, namun tidak jadi. Kemudian saya memutuskan untuk
mengawali kalimat dengan bersyukur karena memilikimu sebagai orang yang memiliki
hatiku, lalu tidak jadi lagi. Akhirnya, saya mulai menarik napas panjang dan
mengawalinya dengan kata-kata yang tidak romantis seperti ini. Iya, saya tahu.
Ini sudah biasa terjadi. Saya memang bukan orang yang romantis.
Namun, izinkan saya sekali ini bicara tentangmu. Tentang orang yang hingga saat ini membuat saya kebingungan, “Kok bisa ya kita sedekat ini sekarang?”, sekaligus lega karena orang itu adalah kamu.
Menjadi orang yang memiliki
ruang super nyaman di hatimu sebenarnya tidak pernah saya bayangkan
sebelumnya. Selama 3 tahun berada dalam 1 kelas yang sama saat SMK, kemana
saja? Kadang, saya tertawa mendengar pertanyaan itu terlontar dari setiap orang
yang baru tahu tentang kita, bahkan sering juga saya tanyakan pada diri sendiri.
Jadi, jika ada yang bertanya seperti itu, mungkin saya akan jawab tidak tahu
atau paling tidak jawabannya bisa jadi seperti ini,
“Saat itu Tuhan sedang mempersiapkan hati kami dahulu untuk menjadi sedikit lebih dewasa, baru Dia persatukan kami saat waktunya sudah tepat.”
Saya bersyukur mengenalmu
lebih dekat 3 tahun belakangan ini. Saya bersyukur karena kita dekat ketika
kita siap, kita dekat ketika kita mulai sedikit dewasa dan bijaksana, kita
dekat ketika kita mulai tahu mana yang benar dan salah dengan cukup baik. Saya
bersyukur kamu datang di waktu yang tepat. Entah waktunya benar-benar tepat atau
tidak, yang pasti saya bersyukur kita dekat saat ini. Saya berterima kasih
karena Tuhan memang selalu tahu apa yang saya butuhkan. Kamu salah satunya.
Dear Fathur,
Terima kasih sudah selalu sabar
menghadapi saya, terima kasih mau mengerti apapun keadaan saya, terima kasih
sudah berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari, terima kasih untuk selalu
menghargai saya dan dirimu sendiri, terima kasih sudah pandai membuat lelucon
yang membuat saya menangis dan meringis karena kadang terlalu hambar, terima kasih untuk setiap
genggaman tangan terhangat, dan terima kasih untuk mau berbagi air mata serta
senyum yang saling kita nikmati.
Saya juga ingin
berterima kasih untuk kedua orang tuamu yang telah mendidikmu dengan baik
sehingga kamu mampu memperlakukanku dengan baik. Selamat ulang tahun ke 24. Tak
perlu kujabarkan doa terbaikku untukmu di sini. Karena Tuhan pasti tahu doaku
untukmu dan apa yang kamu butuh. You’ve did well for every step you took. Once
again, happy birthday my sweetheart. God bless you, may your life filled of
happiness, joy, and love.
From your sweetheart,
Rani
12-08-2018
00:00 WIB

Ini siapa sih tengil amat mukanya
ReplyDeleteMuke Anda!!!
Delete