
Aku belajar paham,
dari diam yang tak pernah kau jelaskan,
dari tatap mata yang enggan bercerita,
dan dari letihmu yang tenang kau sembunyikan.
Aku mengerti,
tanpa perlu isyarat, tanpa ucap.
Karena kadang,
perasaan bicara lebih nyaring dari suara.
Tapi,
saat ingin dipahami,
kenapa harus kupecahkan sendiri gelembung sepi?
Mengapa pengertian hanya berjalan searah,
sementara diri ini berdiri, menanti separuhnya dekap pulang lengkapi?
Aku tak minta banyak,
hanya ingin sebuah pasti—
apakah sesekali,
ada rongga dalam hatimu
untuk memahami tanpa kuminta?
Karena jika aku bisa mengerti tanpa kau pinta,
bukankah aku juga pantas dimengerti
tanpa harus bertanya?

